Minggu, 04 Mei 2014

Impor Barang Konsumsi Naik karena Beras, Daging, dan Bawang


Jakarta -Impor non migas pada Maret 2014 tercatat US$ 10,53 miliar, naik 1,94% dibandingkan Februari yang sebesar US$ 10,33 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh lonjakan impor barang konsumsi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan, impor barang konsumsi Maret adalah US$ 1,1 miliar, naik 20,5% dari Februari yang sebesar US$ 898,6 juta.

Sementara impor kelompok bahan baku/penolong mengalami kenaikan 6,25% dari US$ 10,5 miliar menjadi US$ 11,2 miliar. Sedangkan impor barang modal justru turun 4,11% dari US$ 2,3 miliar menjadi US$ 2,2 miliar.

Dalam kelompok barang konsumsi ini, Suryamin menuturkan, didominasi oleh bahan pangan. Di antaranya adalah impor bawang merah, bawang putih, gandum, beras, dan daging.

Namun di sisi lain, lanjut Suryamin, produk-produk tersebut adalah jenis barang yang sangat strategis untuk pengendalian inflasi. Ia menilai impor bahan pangan itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya deflasi sebesar 0,02% pada April.

"Jadi yang diimpor bukan pakaian, tapi komoditi yang digunakan untuk mengontrol harga bahan pokok sehingga inflasi terkendali," tegas Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Meski begitu, Suryamin menyatakan impor bahan pangan tetap harus menjadi perhatian. Dia ingin agar produk-produk tersebut tersedia bukan dari impor, melainkan dalam negeri.

"Ini sangat penting bagi pemerintah untuk meningkatkan produksi. Tingkatkan produksi bawang, beras, dan daging," kata Suryamin.

(mkl/hds)

Berita ini juga dapat dibaca melalui 
m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS &Windows Phone. Install sekarang!Description: http://newopenx.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=792&campaignid=4&zoneid=438&loc=1&referer=http%3A%2F%2Ffinance.detik.com%2Fread%2F2014%2F05%2F02%2F141625%2F2571464%2F4%2Fimpor-barang-konsumsi-naik-karena-beras-daging-dan-bawang&cb=e019153722

"Menurut saya, mengimpor barang konsumsi tidak terlalu buruk. Akan tetapi harus melihat barang konsumsi di Indonesia sendiri. Apabila terlalu banyak barang konsumsi yang di impor maka para petanipun sangat mengalami kerugian. Hal ini itu menjadikan penurunan penghasilan para petani, seharusnya pemerintah membantu para petani untuk menghasilkan barang konsumsi yang berkualitas dan mencukupi kebutuhan dalam negri."


Produksi Tekstil RI Turun Gara-gara Serbuan Barang Impor


Jakarta -Produksi industri manufaktur jenis tekstil pada kuartal I-2014 turun sebesar 5,88% dari periode yang sama pada 2013. Dibandingkan dengan kuartal IV-2013, produksi tekstil pun turun sebesar 6,61%.

Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi Lumaksono menuturkan salah satu faktor penyebabnya adalah serbuan produk tekstil dari negara lain. Dengan harga yang lebih murah dan produk yang lebih menarik, tentu menarik minat konsumen.

"Memang kan indikasinya kita diserbu barang-barang dari luar. Mungkin orang tertarik karena harga. Ketika harga di luar lebih murah dan lebih variatif, praktis industri kita dari sisi permintaan akan berkurang," papar Adi di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Faktor lainnya, lanjut Adi, adalah kenaikan upah minimum pada 2013 dan 2014. Di samping itu ada juga kenaikan tarif listrik yang dilakukan secara bertahap selama 2013.

"Upah ini besar kontribusinya. Karena padat karya, upah naik langsung berpengaruh ke harga barang. Listrik juga berpengaruh," sebutnya.

Di sisi lain, ekspor produk manufaktur justru melambat akibat penurunan permintaan. "Ekspor banyak yang terpengaruh seperti nilai tukar, hubungan dengan negara lain apakah ada krisis. Kalau ada, kita nggak bisa menaikkan ekspor," kata Adi

Secara keseluruhan, pada kuartal I-2014 produksi industri manufaktur mengalami penurunan 0,02% dibandingkan kuartal IV-2013. Namun bila dibandingkan denagn kuartal I-2013, terjadi kenaikan 3,76%.

(mkl/hds)

Berita ini juga dapat dibaca melalui 
m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS &Windows Phone. Install sekarang!

Description: http://newopenx.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=792&campaignid=4&zoneid=438&loc=1&referer=http%3A%2F%2Ffinance.detik.com%2Fread%2F2014%2F05%2F02%2F153053%2F2571620%2F4%2Fproduksi-tekstil-ri-turun-gara-gara-serbuan-barang-impor&cb=485466fb77
"Menurut saya, peran pemerintah sebagai pengendali Negara ini harus andil dan terlibat karena barang-barang impor yang saat ini mudah untuk dimasuki Indonesia sudah sangat banyak ditambah dengan harga yang murah dibandingkan barang local dan yang terjadi Indonesia lebih banyak menimpor daripada mengekspor. Hal itu menjadikan kurang baik untuk pertumbuhan ekonomi Negara karna Negara hanya menjadi konsumtif tanpa memproduksi barang sendiri".

Marjin Bunga Bank RI Paling Tinggi di ASEAN


Jakarta -Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Net Interest Margin(NIM) perbankan di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Keuntungan bank di dalam negeri yang tercermin dari marjin bunga bersih atau NIM sepanjang tahun lalu mencapai 4,89%.

Per akhir 2013, NIM perbankan Indonesia mencapai 4,89%, disusul Filipina yang mencapai 3,3%, Thailand sebesar 2,6%, Malaysia 2,3%, dan Singapura 1,5%.

"NIM kita cukup bagus dibanding negara-negara lain. Kita lebih unggul ketimbang NIM perbankan Filipina yang mencapai 3,3%, Thailand 2,6%, Singapura 1,5%, Malaysia 2,3%, Indonesia 4,89%," kata Direktur Pengawasan Bank OJK Slamet Edy Purnomo saat diskusi bersama media di Gedung OJK, Jl. Wahidin, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

Edy menjelaskan, untuk mempertahankan posisi NIM di tengah ketatnya likuiditas, bank-bank di Indonesia melakukan beberapa penyesuaian dengan menaikkan bunga kreditnya. Merunut pada data Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan, OJK mencatat pada kuartal I-2014, suku bunga kredit korporasi mengalami kenaikan 5 basis poin (bps) ke level 10,43%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara year on year (yoy).

Kredit konsumsi seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga naik 8 bps menjadi 8,75%. Sedangkan kredit ritel naik 12 bps ke angka 10,71%. Untuk kredit konsumsi non KPR meningkat 12 basis poin menjadi 9,55%. Serta kredit mikro yang juga naik 13 bps ke level 9,67%.

"Menjelang pemilu likuiditas ketat. Namun kami harapkan suku bunga tidak ada kenaikan hingga masa pemilu berakhir. Suku bunga kredit faktornya banyak di antaranya risiko usaha, misal risiko politik, ekonomi. Selain BI Rate dan masalah kekeringan likuiditas. Sejauh ini sampai menjelang pemilu diharapkan tidak akan menaikkan suku bunga sepanjang faktor-faktor itu bisa diantisipasi," kata Edy.
(drk/dnl)

Berita ini juga dapat dibaca melalui 
m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS &Windows Phone. Install sekarang!

"Menurut saya, hal yang sudah baik harus dipertahankan dikarenakan semua itu berdampak pada pendapatan Negara yang semakin tinggi. Banyak investor dalam maupun asing yang semakin tertarik pada Negara Indonesia ini dikarenakan keadaan keuangannya Negara semakin tahun mengalami peningkatan."